Dan setelah itu, aku pun tak kuasa menahan tangis.
Aku
Kedua orang tuaku meninggal ketika usiaku baru 11 tahun. Malam itu, kami sedang dalam perjalanan menuju Makkah, tanah suci, untuk menunaikan ibadah umrah. Sebuah tradisi tahunan keluarga kami. Setelah berhenti di sebuah SPBU, kami melanjutkan perjalanan menuju Taif. Tak lama kemudian, aku tertidur. “Astaghfirullah!” teriak Umi, membangunkanku seketika. Dalam sekejap itu, kendaraan kami berguncang sebelum terguling ke samping, dan kesadaranku mulai memudar.
Aku terbangun di dalam mobil kami yang ringsek. Umi dan Abi tak terlihat di mana pun. Aku memaksakan diri keluar dari mobil, dengan setiap langkah terasa berat, seolah-olah aku baru saja belajar berjalan. Entah mengapa, menjaga keseimbangan tubuhku membutuhkan lebih banyak tenaga dan konsentrasi daripada biasanya. Kusentuh telinga kiriku dan kurasakan darah. Oh, pantes aja.
Sisi jalanan terang benderang, tetapi cahaya itu tidak mengarah ke mobil kami. Ada beberapa orang tergeletak di arah datangnya cahaya tersebut. Saat itulah aku mulai menyadari apa yang terjadi dan berpikir. Mengapa aku belum mencari adik-adikku? Aku bergegas menghampiri mereka, meskipun rasanya lebih seperti menyeret tubuhku sendiri ke depan. Fahd, Hilya... di mana Aisha dan Akhtar?
Sebuah tangan menyentuh bahuku dan aku tersentak. Seorang pria berjanggut berdiri di belakangku. Baru saat itulah aku menyadari kerumunan orang yang berkumpul di belakangnya. Mereka pasti telah melihat sesuatu. “Di mana adikku? Di mana adikku yang lain?” teriakku dalam bahasa Inggris. Tak seorang pun tampak mengerti. Mereka menjawab dalam bahasa Arab, bahasa yang sayangnya juga tak kupahami.
Aku baru menyadari bahwa aku belum memeriksa mobil. Sekali lagi, kuseret tubuhku menuju mobil dan mengintip ke dalam. Kursi depan kosong. Darah tampak jelas menodai kaca depan. Kutahan diriku agar tidak menangis dan melanjutkan pencarian. Ketika melihat ke baris kursi tengah, aku menemukan Aisha. Tapi Akhtar masih belum kutemukan. Telingaku masih mengeluarkan darah, dan aku hampir tak punya tenaga untuk berdiri, apalagi menggendong mereka berdua. Jika aku ingin menemukan Akhtar, aku harus membawa Aisha terlebih dahulu.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, kulepaskan Aisha dari kursi bayinya. Atas izin Allah, Alhamdulillah, aku diberi kekuatan untuk mengangkatnya ke dalam pelukanku. Perlahan, kubawa Aisha menghampiri adik-adikku yang lain. Dengan hati-hati, kuturunkan tubuhnya di samping mereka. Aku berlutut di sisinya dan mengecup keningnya.
Sesaat kemudian, pandanganku menggelap.
Kesadaran
Sampai di sini, mungkin kamu sudah menyadari betapa berartinya keluargaku bagiku. Bukan hanya kasih sayang mereka, tetapi juga pendapat, pemikiran, dan harapan mereka selalu kusimpan erat di dalam hati. Keluarga kami nyaris kehilangan segalanya pada hari itu, tetapi Alhamdulillah, ada begitu banyak orang yang peduli kepada kami. Namun, tanpa kami sadari, sebuah sorotan perlahan tertuju kepada keluarga kami.
Aku tahu bahwa aku bukanlah Abi, dan aku tak akan pernah bisa menggantikannya. Namun, setidaknya, aku ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Aku ingin menjadi sosok yang bisa dijadikan panutan oleh adik-adikku, seseorang yang bisa mereka banggakan. Keinginan ini tak hanya berlaku bagi adik-adikku, tetapi juga bagi sepupu, eyang, nenek, paman, dan bibiku.
Aku selalu merasa seolah-olah ada beban yang diletakkan di pundakku, sebuah tanggung jawab untuk menjadi teladan. Aku selalu merasa seakan-akan semua mata tertuju kepadaku, seolah-olah jika aku gagal menjadi seseorang yang hebat, aku tak akan lagi memiliki nilai. Aku akan menjadi sebuah kekecewaan. Aku tak akan dicintai, tak akan dipedulikan. Aku akan mengecewakan semua orang.
Karena itulah, aku memutuskan untuk menjadi yang terbaik. Aku mengerahkan seratus persen kemampuanku dalam segala hal yang kulakukan. Mungkin aku bukanlah orang yang paling cerdas, dan terkadang minimnya pencapaianku terasa seperti bukti akan hal itu, tetapi aku menolak membiarkan pemikiran tersebut menguasai diriku. Aku berhasil masuk ke sekolah-sekolah terbaik, mendapatkan pekerjaan yang baik, dan, bahkan, membuat eyang, nenek, serta bibi-bibiku meneteskan air mata kebahagiaan karena begitu bangga kepadaku. Momen-momen itu akan selalu kuingat.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, mungkin karena sudah begitu lama tak bertemu dengan adik-adikku dan nenekku, aku mulai merasakan kerinduan. Sebuah kehampaan. Bersamaan dengan itu, aku mendapati diriku seringkali membuka profil LinkedIn-ku sendiri dan membaca kembali riwayat pengalamanku. Aku melihat pendidikanku, membaca ulang bio-ku, dan mengagumi apa yang telah kucapai. Aku merasakan kebanggaan tersendiri atas keterampilan yang telah kukembangkan, pencapaian yang telah kuraih, pekerjaan yang aku dapatkan, dan gelar yang kusandang. Seolah-olah aku sedang berkata kepada diriku sendiri, “Aku berhasil.” Seolah-olah, akhirnya, aku telah menjadi seseorang yang berharga bagi keluargaku.
Namun, suatu hari, aku berhenti sejenak. Aku memutuskan untuk berbincang dengan diriku sendiri. Malam itu, aku menceritakan pencapaianku, latar belakangku, pemikiran dan perasaanku, serta segala hal lain yang telah membentuk diriku menjadi seperti sekarang. Aku bertanya kepada diriku sendiri: mengapa? Lalu, muncullah sebuah pertanyaan sederhana:
“Jika esok aku kehilangan gelar ini, apakah aku masih akan merasa diriku sama berharganya?”
Hatiku dengan instan menjawab: “Tidak.”
Dan setelah itu, aku pun tak kuasa menahan tangis.
Di tengah segala dedikasi dan upayaku untuk mencapai kehebatan, aku tak menyadari bahwa diriku telah menjadi seperti mesin. Hari demi hari, malam demi malam, satu-satunya ambisiku adalah terus berkembang. Aku membaca buku dan artikel, mempelajari keterampilan baru, serta mengasah kemampuan yang telah kumiliki. Tentu, aku pernah mengalami masa-masa kelelahan mental, bulan-bulan ketika aku memperlambat langkah dan membiarkan diriku beristirahat. Namun, secepat masa-masa itu berlalu, motivasiku kembali menyala, dan aku kembali ke titik semula.
Tak pernah kusadari betapa banyak bagian dari identitasku yang telah hilang di sepanjang perjalanan ini. Aku tak menyadari betapa dalam beban ini telah mendefinisikan diriku, betapa besar pengaruhnya terhadap diriku sebagai manusia: tujuan-tujuanku, motivasiku, bahkan alasan mendasar mengapa aku terus menjalani hidup dengan cara seperti ini.
Aku tak pernah menyadari betapa sedikitnya aku menghargai diriku di luar pengalaman yang telah kukumpulkan dan pencapaian yang telah kuraih.
Refleksi
Mungkin, selama bertahun-tahun ini, aku begitu sibuk berusaha menjadi seseorang hingga lupa bagaimana caranya sekadar menjadi diriku sendiri. Menjadi seseorang yang tak perlu membuktikan apa pun, yang tak harus menjadi yang terbaik, yang tak perlu terus-menerus mendapatkan tempat di hati orang-orang yang dicintainya.
Aku masih ingin membuat keluargaku bangga. Aku masih ingin melakukan hal-hal hebat, menjadi engineer yang lebih baik, dan menjadi sosok yang bisa dijadikan panutan oleh adik-adikku. Kurasa tak ada yang salah dengan keinginan itu. Namun, mungkin sudah saatnya aku belajar bahwa semua itu tak seharusnya menjadi harga yang harus kubayar agar merasa layak dicintai.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendapati diriku mengajukan sebuah pertanyaan yang bahkan belum kutahu bagaimana cara menjawabnya.
Siapakah diriku ketika aku tak lagi harus membuktikan bahwa aku layak dicintai?
Permohonan maaf: Sejujurnya, tulisan ini berawal dari percakapan yang kulakukan dengan ChatGPT. Saat itu, pikiranku sedang dipenuhi begitu banyak hal, dan aku perlu menemukan cara untuk meluapkan semuanya. Aku takut akan penilaian orang lain terhadap diriku. Itulah sebabnya aku memilih untuk bercerita kepada AI.